..Tak akan Lekang..
Dag...dig...dug...
Kali ini yang berdetak bukan lagi purple watch di mejaku, tapi jantungku. Sungguh, ini cukup mengganggu. Aku tak mengerti mau berbuat apa. Pikiranku melayang pada sebuah pesan yang kuterima hampir seminggu lalu. Ya, pesan offline dari "Den".
[03:58] Den: waalaikumussalam...
[03:58] Den: maaf beribu maaf NoN... aku gak balas sms mu
[03:59] Den: juga YM mu baru bisa aku reply...
[04:00] Den: sekali lagi mohon maaf...panjang ceritanya
[04:00] Den: nomormu masih aku simpan...
[04:01] Den: sedang aku, lagi tidak punya nomor...
[04:02] Den: absurd...tapi itulah, dua bulan ini aku mencoba komunikasi satu arah dengan rekan dan teman-teman...
[04:02] Den: bukan aku tidak mau dihubungi...tapi kondisiku yang kurang memungkinkan
[04:03] Den: sejak dua bulan terakhir aku sakit...
[04:03] Den: sakit sangat serius...
[04:04] Den: karena itu aku mencoba konsentrasi untuk mendapatkan kekuatan dan kesabaran dalam menjalani sakitku ini...
[04:05] Den: rasanya sangat bersalah sama kamu NoN, karena tidak bercerita tentang cobaan sakit yang tengah aku alami...
[04:06] Den: tolonglah kamu fahami
[04:06] Den: pada saatnya aku akan menghubungi kamu dan menceriterakan semuanya....semuanya
[04:08] Den: paling tidak, sekarang kamu tahu aku sedang mendapat cobaan sakit yang sangat serius...
[04:09] Den: dan yang aku butuhkan dan mohonkan dari kamu adalah doa yang ikhlas, agar aku bisa sabar dan tabah menjalani cobaan ini...
[04:09] Den: itu saja NoN...
[04:10] Den: salam buat Bapak, Ibu, dan adik-adik...
[04:10] Den: terimakasih...wassalam
Pesan offline ini kubaca setelah minggu lalu aku tak berhasil menghubunginya. Beberapa kali dua nomornya tak bisa kuhubungi, sms tidak, telpon apalagi (akhirnya kukirimi ia offline messages). Komunikasi dua arah terakhir sekitar bulan Maret (setelah usiaku 23 tahun). Bulan Juni kucoba menghubunginya, sama sekali tak berespon, tak bisa. Ah, "Den"...
Dan...entah kapan tepatnya offline messages itu dikirim "Den" (tak ada tanggal dalam offline messages di meebo). Sudah cukup lama aku tidak mengaktifkan messengerku. Aku menyesal membacanya, tenggorokanku tercekat. Mood-ku drop seketika. Ingin sekali menangis, andai aku tak ingat bahwa aku sedang di kantor.
Beribu tanya menggelayut dalam benakku. Mungkin dibubuhi sedikit kekecewaan. Tapi, aku berusaha untuk mengerti kondisinya. Aku percaya, jika memang ada masanya, dia pasti akan bercerita. Kalau pun tidak, aku tetap akan selalu berdoa untuknya. Aku juga ingin ia selalu tahu, bahwa persahabatanku dengannya, tak akan lekang dimakan waktu.
Ya Allah...lindungilah "Den". Beri dia kekuatan menjalani cobaanMu. Sejenak saja, beri dia kesempatan untuk rasakan bahagia bersama orang-orang yang dikasihinya. Amin...(ya, hanya selarik doa yang bisa kupanjatkan).

Comments